Buat Marx
Wajah- wajah semakin pucat
cahaya memudar
beberapa menggadai topeng
menawarkan pada kenyataan
Kranji, 12 Februari 2020
Asu Gunung
Kandang bagi anak- anak kata. Selamat berkunjung di Kandang Waung yang merumahkan tulisan- tulisan Asu Gunung (domenicosavioega).
Buat Marx
Wajah- wajah semakin pucat
cahaya memudar
beberapa menggadai topeng
menawarkan pada kenyataan
Kranji, 12 Februari 2020
Asu Gunung
Untuk Angkatan Ke-7
Ke tepi ciliwung aku pindahkan
puncak para dewa dan dewi
lantas anak- anak jaman
bernyanyi dan menari
Mahameru merendahlah
hanyutlah bersama tirta
jangan lagi tinggi, leburlah
biar dinginmu menyatu dengan dinginnya Cisarua
Di sini tak ada pekat asap belerang
hanya sesak debu polusi dan raung mesin
biarkan menjadi satu...
Tepi Ciliwung, 7 November 2024
Asu Gunung
Dari seru tak tahukah engkau, aku harus berada di rumah bapaKu
Sampai ke ujung pamit Aku menyertaimu sampai akhir jaman
Mulai, ibu waktuku belum tiba
hingga eloi... eloi... lama sabakhtani
Aku mengingat kembali kisah Tuan
sebelum sejenak aku tenggak minum terakhirMu
dan syukur bagiMu...
Minumku tak seasam itu...
Agaknya kisah Tuan akan menjadi sedikit lebih panjang malam ini
karena ini malam yang layak kita ingat
selain pada malam perjamuan terakhir itu
Ini malam aku berceloteh dan kau dengan tenang mendengar...
Eh, isi gelasku kok berkurang?
(Belum selesai...)
Apabila dingin malam mulai menusuk ringkih tubuh
Kerikil- kerikil tajam seolah menanti menyayat telapak kaki
mungilmu
Aku nantikan dirimu di ujung jalan sebagai bayang- bayang
Ku sertakan senyum pelipur untuk lelahmu…
Bulan masih penuh dan pucat
Kabut tipis membeku rindu yang tak kunjung pudar
Genangan-genangan cerita lama berserakan di tepian
Berisik mereka menagih untuk disambang
Telah mereka sediakan kopi dan sebungkus rokok
Menemani jumpa yang masih rencana
Sampai lupa
Kaki mungilmu masih menetes darah…
Bekasi, 23 September 2024
Asu Gunung
Menyebut namamu dalam doa malamku adalah candu
tidak mungkin lagi aku tidakkan
walau air mata tentu menetes selalu
mengiringi gerimis medio November
Menelan rinduku untukmu adalah candu
walau rindu tak juga kunjung bertemu
bagai anak rantau yang tak pernah tahu
arah jalannya untuk pulang
Candu terakhir, aku hisap
dalam batang- batang hari yang sedang berganti...
(Asu Gunung)
Memburu dirimu
membuatku cemburu
pada sendok nasi goreng
yang selalu kau kecup ketika menyuapimu...
Membuatku cemburu...
Pada segelas air putih
yang selalu bisa merasukimu...
(Asu Gunung)
Kopi di cangkirku dingin
tulangku menggigil dan hatiku meringkuk
rasamu sepahit kopiku
dan aku...
tetap masih ingin mencecap...
(Asu Gunung)
Hey, apakah kau sedang merasakan rindu?
Berbahagialah...
Itu adalah hadiah terindah yang diberikan jarak dan waktu...
(Asu Gunung)
Kenapa tawamu memejamkan mata?
Oh, ada cerita panjang
yang kau sembunyikan di matamu ya?
Semoga buka luka...
Asu Gunung
Sebelum cahaya pertama menyapa sudah kita kemasi semua segala kenangan dan rasa tanpa tertinggal satu juga Langkah kita tak lagi ringan ter...