Minggu, 23 November 2025

Kepada Embun di Pucuk Cantigi


Setelah usai perjalanan
setelah sudah menapaki jejak
ada hela desah yang panjang
ada hirup yang tak pernah ingin putus

Embun di pucuk cantigi
sekali lagi mengeja namamu
yang mulai kabur dibasuh peluh-peluh
dalam dingin perjalanan yang sunyi

Aku mulai membacakan tulisan- tulisan Neruda
membisikan kalimat- kalimat Rumi
menemani tapak langkah jariku
menyerat alinea atas namamu

Sampai sore terakhir kita bersama
melacak jejak- jejak ranting cemara
dan riuh kita baca puisi- puisi itu

Lawu...
Lawu...
Sekali lagi aku ingin kembali
Menapak lagi tanah basahmu setelah gerimis sore hari

Embun di pucuk cantigi 
sekali lagi mengeja namamu
yang mulai kabur dibasuh peluh-peluh
dalam dingin perjalanan yang sunyi

Dalam sudut kemarau di hati ini
embun- embun dari pucuk cantigi yang merah
menetes membawa rasa lega yang basah

Aku tak pernah usai 
menyerat namamu pada tanah kering kerinduan
walau tahu, debu menguburnya segera sebelum aku tahu...


                                Bekasi, 24 November 2025
                                Asu Gunung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silentium Magnum

  Satu- satu batang rokok tersulut cerita- cerita menipis menuju habis mata kita sama- sama memandang di kejauhan tak lagi kita punya kisah ...